Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018
jika ada tempat berpulang untuk membagi beban, ingin rasanya kubagi beban bebanku denganmu. bukan karena aku tidak mau membaginya, tapi karena jarak yang kita ciptakan sudah semakin jauh. tidak ada lagi kawan tempat bertukar cerita. tidak ada lagi kawan yang mendengarkan cerita. bahkan saat berpapasan pun kita seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. selalu merasa takut untuk kehilangan sahabat sepertimu namun terlalu munafik untuk mengakui. selalu merasa khawatir jika tidak mengetahui kabarmu namun berubah bisu ketika berhadapan. selalu merindukan candamu namun begitu bimbang untuk bertegur sapa.
hanya sekejap mereka mampir, mengobrak-abrik ruang kamarku dan menghabiskan sisa makanan yang ada, mendengarkan gelagap tawa mereka membuatku tersenyum, sejenak melupakan beban yang sedari tadi ku sandarkan di pundak. ah kawan.. kau memang pereda.

Langit malam, 6 mei

Semesta tidak akan pernah bisa mendengar alunan kata kata cerita yang kau ucap, layaknya aku menatap langit malam secara statik ataupun bahkan periodik. Kamu tau apa yang membuatku tertarik dengan gelapnya malam? malam yang mampu menjadi bagian dari diri. Mungkin karena aku   yang terlalu sering mengisi suatu hal akan diam sunyi bahkan gelap. Namun percayalah dibalik gemerlapnya malam selalu ada bintang-bintang yang tidak pernah redup, aurora yang terus menari atau mungkin komet yang terus berputar. Sayangnya malam terkadang menjadi seorang pelukis dendam. Dendam atas semesta yang memiliki substansi antara rasa dan logika. Dendam atas rasa dan logikanya sendiri. Suatu konflik yang mampu menciptakan metamorfosa. Pada akhirnya perjalanan galaksi waktu, aku berharap malam akan mengerti bahwa semesta tak selamanya harus dimengerti. Biarkan semesta merasakan, merasakan rasa yang diaduk dengan pahitnya lara. Terbang dengan rasa lalu hanyut dengan logika. -puisi ini ditulis oleh s...

Datang.

Datanglah jika kau ingin datang,  dengan segala resahmu, kapanpun kau mau.  asalkan jangan pergi dengan tiba-tiba, tanpa aku tahu.  setidaknya beri aku isyarat,  yang sedikitnya mampu kumengerti.   sebab, kamu yang mengajariku bagaimana caranya untuk datang.  tetapi kamu, tidak mengajariku bagaimana caranya untuk pergi.