Semesta tidak akan pernah bisa mendengar alunan
kata kata cerita yang kau ucap, layaknya aku menatap langit malam secara statik
ataupun bahkan periodik. Kamu tau apa yang membuatku tertarik dengan gelapnya
malam? malam yang mampu menjadi bagian dari diri. Mungkin karena aku yang terlalu sering mengisi suatu hal akan
diam sunyi bahkan gelap. Namun percayalah dibalik gemerlapnya malam selalu ada
bintang-bintang yang tidak pernah redup, aurora yang terus menari atau mungkin
komet yang terus berputar. Sayangnya malam terkadang menjadi seorang pelukis
dendam. Dendam atas semesta yang memiliki substansi antara rasa dan logika.
Dendam atas rasa dan logikanya sendiri. Suatu konflik yang mampu menciptakan
metamorfosa. Pada akhirnya perjalanan galaksi waktu, aku berharap malam akan
mengerti bahwa semesta tak selamanya harus dimengerti. Biarkan semesta
merasakan, merasakan rasa yang diaduk dengan pahitnya lara. Terbang dengan rasa
lalu hanyut dengan logika.
-puisi
ini ditulis oleh seorang penikmat bintang dalam gelap malam.
Komentar
Posting Komentar