Hujan
bertambah deras dan kami bertiga layaknya tahanan yang seharian disekap disini.
Aku berjanji sore ini akan segera pulang, tapi nampaknya janjiku tak bisa
ditepati untuk kali ini. Kulambaikan tangan untuk memesan secangkir coklat
panas setelah dua cangkir espresso kosong. Kalian nampaknya tak suka menyeduh
cokat panas di sore hari tapi entah apa yang membuat kalian meminumnya juga.
Mungkin setelah seharian kita berbicara dan tak ada lagi yang ingin
dibicarakan, hingga lebih baik melakukan apa yang tidak disukai dari pada
membicarakan apa yang tidak perlu dibicarakan. Aku tersenyum kearah siapapun
bukan berarti aku termasuk kategori orang yang ramah, hanya tak tau bagaimana
cara melampiaskan tubuhku yang menggigil karena rasa dingin ini. Selain menoleh
kearahmu atau kearahnya, mengerjapkan mata. Itulah yang aku bisa.
Laki-laki
itu yang berada didepanku, aku menghindari pandangannya berkali-kali tapi
terlau sulit untuk tidak menatapnya. Rasanya tidak jenak apabila aku belum
menjawab pertanyaan yang telah diajukan sebelumnya. Sebuah pertanyaan yang
sempat kudengar tahun lalu. Dengan pertanyaan dan orang yang sama. Entah
sengaja atau dibuat-buat tidak penting bagiku, yang penting adalah bagaimana
aku menjawabnya. Setahun lalu, cukup lama rasanya tapi terlalu singkat bila
dibayangkan. “Cinta itu seperti apa?”.
***
Aku
meledak-ledak mendengarnya bicara. Kukira dia ingin menjadikanku sebuah
bomerang pagi ini. “Cinta? Cinta?”. Kembali tawaku memenuhi seluruh sudut
ruang matanya. Bola matanya memancar seakan ingin mendengar jawaban dariku.
Jawaban sesungguhnya. “Kau ingin aku menjawab cinta itu seperti apa?”. Dia
mengangguk tapi tak pasti. “Tentu saja” .Jawabnya. Aku berhenti dan menatapnya,
seolah telah paham dengan jawaban itu. Cinta itu apa dan cinta itu apa. Aku tak
mungkin sangggup, menunjukkan cinta sebagai kelemahan
didepanmu. Yang sempat kurasakan, cinta memang adil, namun manusia
sering menganggapnya egois, karena terjadi dengan miris. Tapi itulah cinta,
cinta yang tak sanggup kutunjukkan bahkan untuk memberitahunya saja aku tak
mampu. “Aku tidak tau cinta itu apa”. “Jadi itu jawabanmu?”.Tanya dia sekali
lagi.
***
Kutatap
dengan sayu kaca-kaca yang basah terkena percik hujan. Seolah lebih mudah
menatap kaca, dari pada harus menatapmu. Seperti sebuah mimpi aku mendengar
pertanyaan yang sama dua kali. Aku pernah bermimpi sebelumnya tapi mimpiku
tidak lebih menyakitkan dari pertanyaan “cinta itu seperti apa”. “Ayo kita
pulang, hujan rasanya sudah tak sederas tadi”. Lagi, wanita dan laki-laki itu
melemparkan tatapannya padaku. Ada kata “pulang” sore ini.
Mungkin mereka mulai iba melihat keadaanku. Atau mereka pikir aku
tidak akan menemukan jawabannya. “Kalau mau aku bisa mengantarmu”. Laki-laki
ini kembali bicara padaku. Aku lebih memilih menatap wanita itu, untuk memastikan
apakah dia baik-baik saja. Mungkin pada detik ini, dia merasa jauh lebih
buruk dari pada apa yang aku rasakan. Matanya menyipit seperti menyembunyikan tangis. Aku meyakinkan diriku bahwa hari
ini tetap baik dan baik-baik saja. Kami dan pertemuan ini, kurang lebih menghancurkan perasaan satu sama lain dan menimbun rasa
bersalah. “Aku pergi dulu, aku pulang sendiri, kalian hati-hati”.
Senyumku
mengembang sebagai tanda menghargai dari rasa sakit yang kuterima sore ini. Aku
segera meninggalkan tempat mengerikan itu yang baru aku temui disepanjang
hidupku. Langkahku terdengar samar-samar memijaki trotoar sembari
melirik bus kota. Apa itu cinta apa itu cinta. Masihkah aku harus terus
memikirkan itu. Ketika cinta mengkhianati. Ketika cinta harus menjadi duka. Dan ketika tanpa alasan kau ingin memilikinya, dariku.
Mungkin aku yang terlalu bodoh karena ingin mengenal cinta. Sebagai awal dari
perkenalan, cinta telah menunjukkanku dahsyatnya rasa sakit. Bisakah kita
pura-pura tak mengenal saja layaknya orang hilang ingatan atau amnesia. Agar
tak ada lagi kata jatuh cinta yang kedua kalinya. Bisakah kita saling
menjauh agar rasa sakit ini sedikit terlupakan. Bisakah aku mengatakan cinta
itu seperti apa?. Cinta itu seperti ini. Cinta itu seperti yang baru kulihat.
Cinta menawan, mempesona dan menipu. Kurasa apa yang kutemu sore ini
adalah jawaban dari pertanyaanmu. Ya, itu jawaban dari cinta.
Komentar
Posting Komentar