Aku baru saja pulang. Malam ini, ku tutup pintu kamar dengan
perasaan sendu. Baru saja hujan selesai membasahi halaman. Ini apa dan
bagaimana aku mengungkapkannya. Kenapa rasanya sesak. Padahal tidak ada apa-apa
yang terjadi. Benarkah tidak apa-apa? Ataukah malah ada apa-apa. Benar, ini
tidak ada apa-apa. Hanya aku saja yang melebih-lebihkan. Hanya aku saja yang
mengarang. Selama ini aku merindu tapi kita tak kunjung bertemu. Menunggumu
hingga aku bosan. Menerka-nerka sedang apa kamu. Menulis cerita tentang kita.
Hingga aku lupa, sendirian aku menulis. Kemudian terluka, karena sadar aku
sendiri yang mencinta.
Hujan bertambah deras dan kami bertiga layaknya tahanan yang seharian disekap disini. Aku berjanji sore ini akan segera pulang, tapi nampaknya janjiku tak bisa ditepati untuk kali ini. Kulambaikan tangan untuk memesan secangkir coklat panas setelah dua cangkir espresso kosong. Kalian nampaknya tak suka menyeduh cokat panas di sore hari tapi entah apa yang membuat kalian meminumnya juga. Mungkin setelah seharian kita berbicara dan tak ada lagi yang ingin dibicarakan, hingga lebih baik melakukan apa yang tidak disukai dari pada membicarakan apa yang tidak perlu dibicarakan. Aku tersenyum kearah siapapun bukan berarti aku termasuk kategori orang yang ramah, hanya tak tau bagaimana cara melampiaskan tubuhku yang menggigil karena rasa dingin ini. Selain menoleh kearahmu atau kearahnya, mengerjapkan mata. Itulah yang aku bisa. Laki-laki itu yang berada didepanku, aku menghindari pandangannya berkali-kali tapi terlau sulit untuk tidak menatapnya. Rasanya tidak jenak apabila aku belum me...
Komentar
Posting Komentar