Langsung ke konten utama

Postingan

Di penghujung 2019.

Untuk waktu-waktu dengan cerita pencapaian dan kegagalan, 2019. Untuk Tuhanku, yang telah memberikan cobaan diiringi terkabulnya banyak harapan dan doa. Bapak dan ibuku sebagai pelengkap ragaku saat kaki ini melangkah. Seseorang yang menjadi tambatan hati kemanapun aku pergi. Terimakasih sudah melengkapi. Terkadang setiap kesempatan memang di sediakan sesuai porsinya.  Tidak salah sebagai manusia ingin mengambil porsi lebih yang justru seingkali tidak sesuai eskpektasi dan berujung sakit hati. Sebagai mahkluk yang diberi kesempatan hidup, menyenangkan bukan bila kita memiliki mimpi-mimpi dan harapan. Tapi, bukankah harusnya kita ingat bahwa tidak semua hal berakhir sesuai dengan cerita yang kita rangkai di mimpi-mimpi itu. Ada yang sebagian memang harus direlakan atau diganti dengan yang baru.  Jatuh lagi dan bangkit dan tetaplah berambisi, berjalan. Setiap waktu-waktu yang sudah dilalui, dengan segala pencapain yang pernah di angan-angan se...
Postingan terbaru

Lama.

Bagaimana kabarmu? baik bukan? kuharap begitu. Setelah lama tidak bersua menunggu waktu yang banyak tersita. Kini ke sepuluh jemariku meraba kembali halaman-halaman yang kosong, mencoba mengingat dan membuai setiap kalimat selayaknya, supaya dapat dituangkan kembali dengan laras yang baru. Yang tertinggal, begitu lamakah aku? jangan khawatir lagi. Kini tintanya lebih dari utuh,  sajak nya telah siap di goreskan.
Kadang ketakutan itu pasti ada. meskipun setiap hari kita selalu kerjakan sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, berusaha keras mempersiapkan semuanya semaksimal mungkin, rasa takut itu pasti ada. dan semakin lama semakin terasa saat mendekati hari yang kita nantikan. sedangkan raga seolah membohongi pikiran yang sedang gelisah, bercucuran keluh kesah. ayo biasa saja tidak apa-apa, kata raga. jangan tidur malam-malam, kamu lelah sekali mengejarnya. Kamu punya urusan, tapi Tuhanmu yang berkendak atas semua urusan yang kamu kerjakan saat ini, lantas kenapa ragu?.  ‌ ‌Jangan tidur malam-malam. ayo bangun malam, dan temui Tuhanmu untuk selesaikan urusanmu bersamaNya. kenapa masih takut?  ‌ ‌bandung, 18 januari  ‌seorang perempuan yang hatinya sedang risau dalam mengerjakan skripsi.
jika ada tempat berpulang untuk membagi beban, ingin rasanya kubagi beban bebanku denganmu. bukan karena aku tidak mau membaginya, tapi karena jarak yang kita ciptakan sudah semakin jauh. tidak ada lagi kawan tempat bertukar cerita. tidak ada lagi kawan yang mendengarkan cerita. bahkan saat berpapasan pun kita seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. selalu merasa takut untuk kehilangan sahabat sepertimu namun terlalu munafik untuk mengakui. selalu merasa khawatir jika tidak mengetahui kabarmu namun berubah bisu ketika berhadapan. selalu merindukan candamu namun begitu bimbang untuk bertegur sapa.
hanya sekejap mereka mampir, mengobrak-abrik ruang kamarku dan menghabiskan sisa makanan yang ada, mendengarkan gelagap tawa mereka membuatku tersenyum, sejenak melupakan beban yang sedari tadi ku sandarkan di pundak. ah kawan.. kau memang pereda.

Langit malam, 6 mei

Semesta tidak akan pernah bisa mendengar alunan kata kata cerita yang kau ucap, layaknya aku menatap langit malam secara statik ataupun bahkan periodik. Kamu tau apa yang membuatku tertarik dengan gelapnya malam? malam yang mampu menjadi bagian dari diri. Mungkin karena aku   yang terlalu sering mengisi suatu hal akan diam sunyi bahkan gelap. Namun percayalah dibalik gemerlapnya malam selalu ada bintang-bintang yang tidak pernah redup, aurora yang terus menari atau mungkin komet yang terus berputar. Sayangnya malam terkadang menjadi seorang pelukis dendam. Dendam atas semesta yang memiliki substansi antara rasa dan logika. Dendam atas rasa dan logikanya sendiri. Suatu konflik yang mampu menciptakan metamorfosa. Pada akhirnya perjalanan galaksi waktu, aku berharap malam akan mengerti bahwa semesta tak selamanya harus dimengerti. Biarkan semesta merasakan, merasakan rasa yang diaduk dengan pahitnya lara. Terbang dengan rasa lalu hanyut dengan logika. -puisi ini ditulis oleh s...

Datang.

Datanglah jika kau ingin datang,  dengan segala resahmu, kapanpun kau mau.  asalkan jangan pergi dengan tiba-tiba, tanpa aku tahu.  setidaknya beri aku isyarat,  yang sedikitnya mampu kumengerti.   sebab, kamu yang mengajariku bagaimana caranya untuk datang.  tetapi kamu, tidak mengajariku bagaimana caranya untuk pergi.