Langsung ke konten utama

Mengertilah, aku lelah

Hampir setengah mahasiswi di kampus ini bisa kusebut monster. Betapa tidak mengerikannya mereka, jika setiap  kali aku berjalan, spesies-spesies seperti itu selalu bertebaran dimana-mana. Menganggap bahwa dirinya adalah hal perbincangan umum yang indah untuk diperbincangkan. Sepertinya kampus ini telah dipenuhi virus-virus : wanita-wanita yang mencari popularitas tak jelas. Mereka mampu membuatku terusik setiap detik,menit dan jam, terkecuali jika bukan karena dia, aku mungkin tak sanggup menahan banyak kemuakanku.
Wanita itu, mungkin salah seorang dari mereka. Beberapa kali kuliahatnya menghampirimu. Bagaimana bisa aku tidak mengernyitkan dahiku ketika dia duduk disampingmu, tepat bersebelahan denganmu, memotong posisiku dan posisimu. Seketika ingin kusemburkan alat pemadam api disekitarku, seperti telah terjadi kebakaran yang cukup fatal. Kemudian dia membelalak menatapmu lebih dekat, membuat jantungku ingin meletus, karena degupannya semakin kencang. Aku bisa gila melihat tatapan yang diberikan wanita itu kepadamu. Dia mengibaskan rambut panjangnyanya lalu tertawa, atau menepuk pipinya yang penuh dengan lapisan bedak itu. Beribu tetesan keringat dingin berebutan mengucur dari dahiku. Sepertinya mereka tak punya kesabaran untuk meluncur satu per satu. Pelan-pelan kuteguk es jeruk yang tiba-tiba terasa seperti es bawang itu. 
Terang saja, setiap kali wanita itu datang menghampiri jam makan siang kita, aku merasa seperti sedang bermanivestasi sebagai sosok tak berwujud dalam pembicaraan kalian. Aku tak mampu lagi berfikir sejauh apa, sehingga kamu bisa tertawa tergelak-gelak di depanku, saat berbicara dengan wanita itu.Bagaimana mungkin kamu bisa dengan mudah menyisihkanku begitu saja saat dia datang. Adakah aku dalam sekelebat pembicaraanmu dengannya?. Bisakah kita berbicara seperti pembicaraanmu dengannya?. Aku lelah dengan kemunafikan yang kubiarkan larut berhari-hari. Aku ingin bicara bahwa terlalu menyakitkan untuk sekedar melihatmu menatapnya saja. Tapi semua yang ingin kubicarakan berkali-kali, telah menjadi didihan air yang menguap diudara begitu saja tanpa ada bekasnya. Dua tahun kita bersama, tetap tak ada yang mengerti dan tak ada yang sanggup kupahami. Aku  dan kamu, kita mungkin lebih pantas dikatakan sebagai teman dari pada kekasih. Kita mungkin lebih pantas dikatakaan serpihan kaca dari pada pecahan kaca. 
Jika kutanya padamu sekali lagi, tidakkah kamu lelah?. Karena sejujurnya aku benar-benar lelah. Aku mampu menahan meski aku lelah. Aku menyembunyikan harap meski tak sedikitpun terucap. Aku sanggup menahan pinta meski tak akan kau dengarkan. Aku masih  melihat, meskipun menyakitkan. Aku dengan keyakinan tungguku meski tak akan terjadi. Aku dengan segala kesanggupanku. Inilah aku yang selalu membiarkan nyala api membakarku perlahan hingga aku habis dan tak tersisa lagi kata “aku” dalam senandungmu. Maka izinkanlah aku, untuk tetap menjadi aku yang luruh perlahan, menghilang karna kau hancurkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sendirian.

Aku baru saja pulang. Malam ini, ku tutup pintu kamar dengan perasaan sendu. Baru saja hujan selesai membasahi halaman. Ini apa dan bagaimana aku mengungkapkannya. Kenapa rasanya sesak. Padahal tidak ada apa-apa yang terjadi. Benarkah tidak apa-apa? Ataukah malah ada apa-apa. Benar, ini tidak ada apa-apa. Hanya aku saja yang melebih-lebihkan. Hanya aku saja yang mengarang. Selama ini aku merindu tapi kita tak kunjung bertemu. Menunggumu hingga aku bosan. Menerka-nerka sedang apa kamu. Menulis cerita tentang kita. Hingga aku lupa, sendirian aku menulis. Kemudian terluka, karena sadar aku sendiri yang mencinta.

Cinta itu seperti apa?

Hujan bertambah deras dan kami bertiga layaknya tahanan yang seharian disekap disini. Aku berjanji sore ini akan segera pulang, tapi nampaknya janjiku tak bisa ditepati untuk kali ini. Kulambaikan tangan untuk memesan secangkir coklat panas setelah dua cangkir espresso kosong. Kalian nampaknya tak suka menyeduh cokat panas di sore hari tapi entah apa yang membuat kalian meminumnya juga. Mungkin setelah seharian kita berbicara dan tak ada lagi yang ingin dibicarakan, hingga lebih baik melakukan apa yang tidak disukai dari pada membicarakan apa yang tidak perlu dibicarakan. Aku tersenyum kearah siapapun bukan berarti aku termasuk kategori orang yang ramah, hanya tak tau bagaimana cara melampiaskan tubuhku yang menggigil karena rasa dingin ini. Selain menoleh kearahmu atau kearahnya, mengerjapkan mata. Itulah yang aku bisa. Laki-laki itu yang berada didepanku, aku menghindari pandangannya berkali-kali tapi terlau sulit untuk tidak menatapnya. Rasanya tidak jenak apabila aku belum me...

Langit malam, 6 mei

Semesta tidak akan pernah bisa mendengar alunan kata kata cerita yang kau ucap, layaknya aku menatap langit malam secara statik ataupun bahkan periodik. Kamu tau apa yang membuatku tertarik dengan gelapnya malam? malam yang mampu menjadi bagian dari diri. Mungkin karena aku   yang terlalu sering mengisi suatu hal akan diam sunyi bahkan gelap. Namun percayalah dibalik gemerlapnya malam selalu ada bintang-bintang yang tidak pernah redup, aurora yang terus menari atau mungkin komet yang terus berputar. Sayangnya malam terkadang menjadi seorang pelukis dendam. Dendam atas semesta yang memiliki substansi antara rasa dan logika. Dendam atas rasa dan logikanya sendiri. Suatu konflik yang mampu menciptakan metamorfosa. Pada akhirnya perjalanan galaksi waktu, aku berharap malam akan mengerti bahwa semesta tak selamanya harus dimengerti. Biarkan semesta merasakan, merasakan rasa yang diaduk dengan pahitnya lara. Terbang dengan rasa lalu hanyut dengan logika. -puisi ini ditulis oleh s...