Langsung ke konten utama

Terimakasih, malaikat tanpa sayap.

        Aku hanya tidak ingin jauh-jauh darinya. Tiap kali dia ingin pergi lama, entah bagaimana aku harus menjelaskan rasa resah yang berusaha mencabik hati. Pasti diam-diam aku akan menangis, meskipun tidak di depannya. Aku akan mengurung diri seperti anak cengeng yang kehilangan boneka kesayangannya. Aku yakin dia pasti juga ingin segera menemuiku kembali , meskipun tidak secepat yang kuinginkan. Aku ingin aku dan dia lebih sering menghabiskan waktu bersama setiap saat, tapi itu mustahil. Aku tau dia punya kesibukan dan akupun juga. Tapi dia menjadi semangatku, bahkan ketika kami tidak saling bertemu.

          Aku selalu mengeluh rindu, dan dia selalu berkata “sabar”. Bukan karena dia tidak rindu, tapi dia sedang mencari saat yang tepat untuk menemuiku, meyakinkan bahwa “ini tidak apa-apa” dan “jangan sedih”. Saat kami pergi bersama, jalan-jalan, makan, atau sekedar nonton film bahkan hanya bertemu sebentar. Dia selalu membawa jaketnya, saat keluar bersamaku karena dia tidak ingin melihatku kedinginan bahkan untuk jangka waktu yang sebentar.


Ketika dia tau waktu sudah larut malam dia akan mengantarku pulang. Saat itulah aku ingin menangis karena harus berpisah lagi dengannya. Dia selalu menelfon untuk memastikan apakah aku sampai di kamar dengan aman. Dia akan marah apabila aku tidur hingga larut malam. Dia rela keluar tengah malam hanya untuk mengantarkanku makan, membelikan makan, atau bagaimanapun caranya supaya aku mau makan. Dia yang selalu khawatir saat aku mengeluh sakit, membelikanku ini itu supaya aku tidak murung dan berharap cepat sembuh.


Yang selalu membantuku ketika aku sedang kesulitan. Dengan membantuku, aku dapat membuat harinya cukup sulit dari yang kubayangkan. Yang selalu datang jika aku sangat menginginkannya untuk menemuiku, bahkan untuk hal yang sepele. Selalu menyempatkan waktu sibuknya untuk keluar bersamaku, dia tidak pernah mengeluh untuk membuatku tersenyum, meskipun aku tau setelah itu dia akan mengerjakan banyak kesibukannya yang lebih penting, dari pada hanya sekedar menemaniku ngobrol hingga larut malam.


Yang selalu kurindukan setiap waktu, bahkan kurindukan lagi sesaat setelah bertemu ataupun saat bertemu aku masih bisa rindu. Aku merasa sakit, jika mengetahui dia akan ada kesibukan selama beberapa bulan untuk jarak yang jauh dariku. Jangankan untuk tau, mendengarnya saja membuatku ingin menangis.

           
          Bagaimana lagi aku menjelaskannya. Dia bisa menjadi seperti apapun yang aku mau. Menjadi kakak yang bertanggung jawab, menjadi ayah yang melindungiku dan memberiku nasehat, menjadi sahabat yang selalu mendengar keluh kesahku, menjadi orang yang aku benci terkadang, dan menjadi kekasih yang baik. Aku tidak mengharapkan apapun darinya, permen, coklat bunga atau sebagainya sama sekali tidak. Aku hanya ingin, hubungan ini baik-baik saja. Cukup dijaga dengan baik dan saling menjaga diri masing-masing dengan baik.Terimakasih atas apapun itu yang telah kamu lakukan untuk membuatku merasa beruntung, karena pernah memilikimu. 


-teruntuk kamu, yang sempat melukis hidupku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sendirian.

Aku baru saja pulang. Malam ini, ku tutup pintu kamar dengan perasaan sendu. Baru saja hujan selesai membasahi halaman. Ini apa dan bagaimana aku mengungkapkannya. Kenapa rasanya sesak. Padahal tidak ada apa-apa yang terjadi. Benarkah tidak apa-apa? Ataukah malah ada apa-apa. Benar, ini tidak ada apa-apa. Hanya aku saja yang melebih-lebihkan. Hanya aku saja yang mengarang. Selama ini aku merindu tapi kita tak kunjung bertemu. Menunggumu hingga aku bosan. Menerka-nerka sedang apa kamu. Menulis cerita tentang kita. Hingga aku lupa, sendirian aku menulis. Kemudian terluka, karena sadar aku sendiri yang mencinta.

Cinta itu seperti apa?

Hujan bertambah deras dan kami bertiga layaknya tahanan yang seharian disekap disini. Aku berjanji sore ini akan segera pulang, tapi nampaknya janjiku tak bisa ditepati untuk kali ini. Kulambaikan tangan untuk memesan secangkir coklat panas setelah dua cangkir espresso kosong. Kalian nampaknya tak suka menyeduh cokat panas di sore hari tapi entah apa yang membuat kalian meminumnya juga. Mungkin setelah seharian kita berbicara dan tak ada lagi yang ingin dibicarakan, hingga lebih baik melakukan apa yang tidak disukai dari pada membicarakan apa yang tidak perlu dibicarakan. Aku tersenyum kearah siapapun bukan berarti aku termasuk kategori orang yang ramah, hanya tak tau bagaimana cara melampiaskan tubuhku yang menggigil karena rasa dingin ini. Selain menoleh kearahmu atau kearahnya, mengerjapkan mata. Itulah yang aku bisa. Laki-laki itu yang berada didepanku, aku menghindari pandangannya berkali-kali tapi terlau sulit untuk tidak menatapnya. Rasanya tidak jenak apabila aku belum me...

Langit malam, 6 mei

Semesta tidak akan pernah bisa mendengar alunan kata kata cerita yang kau ucap, layaknya aku menatap langit malam secara statik ataupun bahkan periodik. Kamu tau apa yang membuatku tertarik dengan gelapnya malam? malam yang mampu menjadi bagian dari diri. Mungkin karena aku   yang terlalu sering mengisi suatu hal akan diam sunyi bahkan gelap. Namun percayalah dibalik gemerlapnya malam selalu ada bintang-bintang yang tidak pernah redup, aurora yang terus menari atau mungkin komet yang terus berputar. Sayangnya malam terkadang menjadi seorang pelukis dendam. Dendam atas semesta yang memiliki substansi antara rasa dan logika. Dendam atas rasa dan logikanya sendiri. Suatu konflik yang mampu menciptakan metamorfosa. Pada akhirnya perjalanan galaksi waktu, aku berharap malam akan mengerti bahwa semesta tak selamanya harus dimengerti. Biarkan semesta merasakan, merasakan rasa yang diaduk dengan pahitnya lara. Terbang dengan rasa lalu hanyut dengan logika. -puisi ini ditulis oleh s...